Downgrade
9/02/2013 02:44:00 AM | Author: aris koerniawan
Baru liat blog setelah sekian lama, ternyata lebih dari dua tahun posting terakhirku. Benar-benar kemandegan kreativitas dan keberanian. Wkwkwwk..
Links to this post
(Bukan) Resensi: " Madre" - Dewi 'Dee' Lestari
7/24/2011 11:56:00 PM | Author: aris koerniawan


"Madre adalah adonan biang. Hasil perkawinan antara air, tepung, dan Saccharomyces exiguus."

Madre adalah nama dari adonan biang yang digunakan untuk membuat roti. Ia diberi makan tepung dan air baru secara rutin agar berkembang biak dan menjadi ibu bagi roti-roti lainnya. Madre- berarti ibu, dalam bahasa Spanyol, mother.

Dikisahkan, Madre dikulturkan pertama kali oleh tokoh bernama Laksmi pada tahun 1941.Ia menjadi cikal bakal Toko Roti Tan yang kemudian berubah nama menjadi Toko Roti Tan de Bakker. Selanjutnya ia dijaga dan dirawat oleh penerus toko tersebut, hingga berusia lebih dari 70 tahun.

Seorang lelaki bernama Tansen, tanpa sejarah dengan 'dunia per-roti-an' mendapatkan warisan 'Madre' dari lelaki bermarga 'Tan' tak dikenal yang meninggal dunia. Menurut pengacara yang mengurus warisan tersebut, Tansen mewarisi adonan biang itu karena ia adalah cucu dari Laksmi.

Diceritakan bagaimana pergolakan diri Tansen setelah ia mewarisi Madre. Oleh Hadi, pegawai yang setia menunggui Tan de Bakker, Tansen diarahkan untuk menemukan takdirnya, yaitu membuat roti. Itulah sekilas yang saya baca dari "Madre", sebuah cerpen pertama yang disajikan oleh Dewi 'Dee' Lestari dalam bukunya dengan judul yang sama, "Madre", yang baru saya baca beberapa waktu yang lalu.

Ceritanya tampak sederhana, tapi tidak benar-benar sederhana. Ia berbeda. 'Madre' punya energi yang menarik saya untuk tidak berhenti membacanya. Entah itu tema, plot, alur, atau apa itu namanya (yang saya tidak begitu paham :))- sungguh kuat. Dan Dee berhasil memberikan pengetahuan tentang bagaimana 'roti' dibuat dengan begitu detil. Yang lebih penting adalah saya bahagia telah membacanya.

Sejurus dengan prolog dari Sitok Srengenge di buku tersebut bahwa Dee- secara sadar ataupun tidak sadar - telah mengungkapkan 'dapur' kreativitasnya, saya menyimpulkan bahwa kehidupan 'Madre' sedikit banyak adalah cermin dari sejarah kepenulisan Mba Dee.

Seperti kultur 'Madre' yang hidup dan dirawat hingga berusia panjang, Dee adalah penulis yang telah menanam bakat menulis sejak muda dan merawatnya secara konsisten dan terus-menerus. Lalu pada suatu saat, (secara alami) ia berhasil membuat buku-buku dengan kualitas dan citarasa yang istimewa - seperti Madre.

Ia yang sekarang disebut penulis populer Indonesia saat ini atas karyanya yang masuk best seller Indonesia dan tulisan dengan kedalaman, kerumitan, dan kepadatannya itu mungkin adalah output saja, hanya akibat, atau buah dari perjalanan panjangnya tersebut.
(Ngelantur...)

Dan menurut saya, seperti Tansen yang menjadi pembuat roti, mba Dee boleh jadi sedang menjalani takdirnya juga, hehe.. Terima kasih, telah memperkenankan saya untuk membaca sebagian karya anda, Mba Dee.

Ini bukan resensi, hanya sebuah ketertarikan tiba-tiba tak bernama untuk menulis corat coret kecil ini. Maaf jika ada yang tidak berkenan. Terima kasih. Salam.

Aris 'K'
Links to this post
24: Sebuah Catatan Kelahiran
8/29/2010 02:51:00 PM | Author: aris koerniawan
Engkau telah dianugerahi hidup. Maka pasti ada cerita. Pasti ada doa, ada dosa, ada air mata. Harus ada harapan, namun harus ada yang terpatahkan. Ada bahagia dan derita. Ada cinta dan persahabatan. Ada kebencian dan permusuhan. Jika ada kelahiran, niscaya ada kematian.

Engkau junjung-junjung nilai-nilai kenabian: kemanusiaan, keadilan dan kesetiaan. Kejujuran, kebenaran, kebaikan, dan keindahan. persaudaraan, kasih sayang dan Cinta!

Namun selalu engkau sisakan ruang untuk kesombongan, kemunafikan, dan kebohongan. Kebodohan, kemalasan dan keburukan. Perasaan fakir, miskin, dan terbuang.

Buanglah itu! Buanglah itu! Buanglah itu!

Engkau telah diberi, dianugerahi, dikaruniai, lebih banyak dari apa yang bisa kau berikan.

Kau dicintai lebih banyak dari cinta yang bisa kau berikan.

Mulut, mata, telinga, kaki tangan, hati, akal, pikiran, syahwat. Belum cukupkah itu untukmu?

Kenapa harus memilih untuk hidup tanpa cinta Sang Raja Semesta jika cinta Nya lebih luas dari samudera dan langit semesta?

Kelahiranmu sejatinya adalah peralihan dari alam sebelum kau dilahirkan ke alam semesta. Dan kematianmu di alam semesta hanyalah jembatan ke alam berikutnya, kembali ke keabadian cinta Nya.

Salawat dan salam untuk junjunganku, Maulana Muhammad. dan tiada tuhan selain engkau, Allah ku..

Hidupmu terlalu sempurna untuk sekedar dirayakan. Terlalu sayang untuk sekedar disia-siakan.

Sebuah catatan Kelahiran
AK
Ba'da shubuh, 23 Ramadhan 1431
Links to this post